Jawab Saja Pernah

Pernahkah kamu merasa resah ketika berbagai macam pertanyaan yang berkelindan di dalam benakmu tidak mampu lagi kamu jawab? Pernahkah kamu merasa gelisah ketika tiba-tiba saja di hadapanmu muncul sesosok kenyataan yang sama sekali tidak pernah kamu harapkan? Pernahkah kamu merasa bahwa kamu adalah seseorang yang tiada berguna sama sekali seperti kalender usang yang telah terbuang ketika untuk kali pertamanya kamu bersalaman dengan sesosok tanggung jawab yang sejak dahulu ingin sekali kamu hindarkan? Pernahkah kamu merasa seperti sedang berdiri di hadapan seribu pintu dan seribu jendela yang selalu menuntutmu untuk memilih jalan mana yang ingin kamu lalui atau kamu lompati? Pernahkah kamu berjalan di sepanjang trotoar sehabis pulang kerja, dan kamu bertanya-tanya mengapa waktu seperti begitu cepat melesat? Pernahkah kamu menyaksikan sekumpulan bocah yang sedang bermain kejar-kejaran, dan kamu langsung merasa betapa kamu sudah tua dan kamu belum bisa berguna untuk siapa-siapa? Pernahkah kamu menonton televisi dan menyaksikan sebuah dunia yang belum pernah kamu kunjungi, lantas kamu merasa tidak akan pernah mungkin kamu bisa mencapai ke sana sebab usia kamu sudah tidak memungkinkan? Pernahkah kamu memiliki keinginan untuk berlari-lari di tengah kota pada lewat tengah malam dengan tubuh telanjang sambil berteriak-teriak lantang untuk melepaskan semua ketegangan, dan kamu merasa semua itu tidak mungkin terjadi sebab kamu hidup di lingkungan yang tidak akan mengijinkan kamu untuk berlaku demikian?

Jawab saja pernah, sehingga dengan begitu saya tidak perlu lagi merasa sendirian.

Balada Syiah-Sunni

Syiah membunuh Sunni

Sunni membunuh Syiah

Ada Abdullah bin Saba’ di Syiah

Ada spionase Inggris di Wahabi

Siapa benar

Siapa keliru

Siapa yang tahu ada rambut di saku baju?

Kata Sunni kepada Syiah: kalian hanya pintar bertaqiah

Kata Syiah kepada Sunni: Kalian hanya sibuk mengusir bid’ah

Mereka saling berkata: kamu sesat, kamu keliru

Aku berkata: tentara zionis masih asik bermain peluru.

Tak Perlu Kaca Spion untuk Melompati Jendela

Kau memberiku kaca spion.
Aku menerimanya dan langsung kulempar ke tempat tidur.
Asal kau tahu, yang aku butuhkan sekarang adalah perjalanan.
Kau bilang aku tidak tahu diri. Aku menjawab, "Hati-hati kalau bicara!"

Aku segera masuk ke dalam kulkas, menutup album-album foto, dan membakar kalender-kalender tua.
Tidak lama kemudian kamu membuka pintu rumah.
Silakan, katamu.
Di dalam matamu aku menyaksikan kura-kura sedang menyeberang jalan.
Aku tersenyum sambil berkata, “Terimakasih.”

Setelah itu aku pergi dari rumah dengan melompati jendela yang sudah sejak lama tidak pernah terbuka.

Membuat Jendela

Siang tadi wajahmu seperti gula pasir
Tentu saja aku tersihir
lantas kita membuat jendela di ruang tamu
Boleh aku menggenggam tanganmu?
Kamu menggeleng sambil menabur gula pasir ke dalam mataku.
Selesaikan dulu jendelanya, katamu, setelah itu kau boleh lakukan apa saja kepadaku.
Baiklah.
Setelah itu kita meneruskan pekerjaan kita,
membuat sebuah jendela, yang entah akan selalu tertutup ataukah akan selalu terbuka.

Sajak untuk Kota Kecilku yang Sibuk

Kota kecil ini sudah terlampau sibuk
padahal rokokku baru saja terbakar
tak ada waktu untuk sekadar menyisir rambut
sebab kereta tak mengenal kata sabar

O, lihatlah kaki-kaki itu
langkah-langkah itu
begitu teratur dan membosankan

Tak ada lagi yang membutuhkan jendela
sebab pintu-pintu selalu senantiasa terbuka
menawarkan seribu satu kemungkinan
memungkinkan seribu satu penawaran

Di kota kecil yang sibuk ini,
jangan harap puisi bisa ambil bagian.

Fragmen Kehidupan

Kenyataan itu mirip seperti ketika kita sedang bercermin di permukaan sendok. Atas menjadi bawah. Lurus menjadi bengkok. Dan hidup ini mirip seperti digit angka yang terdapat di kalkulator. Kau tekan angka satu dan dua, maka yang akan muncul adalah angka dua belas!

Adakah

Adakah yang lebih tidak tahu diri dari duri yang menancap di telapak kaki ketika kita sedang berlari?

Adakah yang lebih duri dari kalimat caci yang meluncur dari bibir seorang kekasih ketika kita sedang bersedih?

Dan, adakah yang lebih caci dari hidup yang tak pernah menjanjikan apa-apa selain mati?

 

Design in CSS by TemplateWorld and sponsored by SmashingMagazine
Blogger Template created by Deluxe Templates